Selasa, 01 Juli 2014

ELEGI RABU PAGI

Untukmu mamah, yang pergi hanya meninggalkan simpul senyum.
Pagi itu aku harap bangun dari mimpi ku, tapi semua seolah semakin nyata; tangisan, jeritan semua nampak semakin nyata.
Mamah, engkau belum sempat melihat sematan gelar dibelakang namaku yang sering kali engkau banggangkan di depan tetangga.
Mamah, mimpimu saat mengandungku memetik bintang2 di langit itu; belum sempat aku wujudkan.
Mamah, aku belum sempat mengantarmu ke baitullah sebelum engkau kembali ke rahmatullah.
Ramadhan ini, mah. Akan kulalui dengan getir tanpa dirimu.
Hari kemenangan tahun ini, mah. Harus tegar ku hadapi tanpa mencium punggung tanganmu.
Tapi mah, satu hal yang aku ikhlaskan. Engkau pergi agar kau tak merintih lagi merasakan rasa sakitmu.
Selamat jalan malaikat tanpa sayap, tak ada lagi tangis haru dan peluk erat mengantarku pergi ke perantauan.
Meneladani dr sikapmu, Mah. Senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan; iya aku bersyukur sebelum genap 20thn aku menyicipi kasih sayang yang utuh.
Bapak, Aa yang kini hanya kalian yang ku miliki. Tetap sehat, tetap ada sampai aku bahagiakan nanti.
Selamat jalan, Mamah. Wanita tercantik sepanjang hidupku. 

Allahummaghfirlahaa warhamhaa wa'aafihaa wa'fu'anhaa.

mamah tercinta







Inilah hidup, ada gerak daur yang tak terputus. Ditinggalkan dan meninggalkan. Kami masih kuat, ibarat yang semula persegi lalu salah satu sisi hilang kami masih saling berpegangan dengan membentuk segitiga sama sisi. Kami masih kuat, saling menyuapi kesabaran meski kadang tersedak pilu.
Mamah, kami tahu satu hal bahwa engkau tak pernah benar-benar pergi meninggalkan kami melainkan menunggu untuk berkumpul kembali. Kelak, mau atau tidak, siap atau belum kami akan segera menyusul.
Mamah, kami mengerti satu hal bahwa kehilangan satu sisi diantara kami mengajarkan betapa berartinya keluarga.
Pusaranmu, Mah menjadi tempat favorit terbaru kami, berdo’a kepada Tuhan untukmu dan bersamamu. Semoga kami semakin faham bahwa air mata yang jatuh bukan untuk meratapi kesedihan melainkan untuk menikmati ketabahan.
Saksikan dari tempat terindahmu sekarang, Mah. Kami akan berusaha penuhi mimpi dan harapan tulusmu. Meski kami tahu tak sejengkal pun jasa mu dapat kami balas, melihat kami rukun? Melihat anak-anakmu menjadi sarjana? Berkunjung ke baitullah? Apapun itu akan berusaha kami tunaikan.
Engkau pergi tak berpesan apapun karena telah banyak pesan dari setiap tindak perbuatan yang telah engkau lakukan, tapi saat itu kami masih lalai mengambil makna. Sekarang, tak henti kami berfikir meneladani segala sifat muliamu.
Terakhir, semoga Allah menghadiahkan rumah yang jauh lebih mewah dari rumah yang telah lama kita tempati bersama. Kami telah ikhlas. kami mencintamu, Mamah.

Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut

Kadipaten 1/12/1967 - 25/07/2014

0 komentar:

Posting Komentar