Minggu, 29 September 2013

ramadhan tahun ini

Jogjakarta 6-juni-2013
Kepada            : alumni perdana pondok pesantren modern ar-rahmat.
Di                     : hati, jiwa dan ingatan yang tak pernah terhapus pun walau sejengkal

Asslamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh..
Bersamaan surat yang terlayang ini, semoga Allah melindungi sahabat-sahabat ku ini.
Tidak terasa sudah setahun yang lalu kita masih bersama-sama merasakan euforia ramadhan. Sekarang kita sudah masing-masing pada jalan yang baru, tapi Allah masih mempersatukan tali persaudaraan kita, semoga tetap abadi. Aamiin.
Aku tulis ini sambil mengenang sepotong episode yang berharga, yang memberikan banyak kenangan, pelajaran dan tentunya pengalaman.
Kami angkatan pertama di sebuah lembaga pendidikan islam. Hanya ber sepuluh santriwati, sisanya santriwan atau orang-orang yang sengaja nyantri ngalong.
Pukul 05.00 W.I.B semua santri harus sudah ada di mesjid, membaca al-qur’an dan tentunya mempersiapkan menu buka puasa. Hanya ada sekitar 20 santri dan sekitar 12 warga sekitar.
Terlihat hidangan yang terlalu sederhana, hanya ada gorengan lengkap dengan cabainya. Kalau sedang beruntung terkadang kami mendapat  agar-agar, kue basah atau buah-buahan yang beraneka warna. Terasa lezat sekali. Bukan karena terlalu mengirit pengeluaran, hanya saja setetlah ini kami harus sholat maghrib dan makan malam agar tidak terlambat sholat tarawih.
Ingatkah, kita sudah berjajar di depan jamuan ta’jil ? Nampak mupeng dan siaga satu, takut-takut kalau incaran makanannya diambil orang. Biasanya kalian yang tidak merasa cukup dengan hidangan ini sengaja membeli pop ice atau bakso tusuk yang sering lewat depan gerbang pesantren saat menjelang buka puasa, tapi ujung-ujungnya dimintai juga oleh kita. Saat mua’adzin yang sering kami sapa mang zaid itu mengumandangkan do’a berbuka puasa dan adzan tanda kita boleh menyerbu gorengan di depan mata. Ramai sekali, terkadang tawa pecah saat salah satu dari kami tidak mendapat bagian karena diantaran kami juga yang mengambil jatah lebih. Sering sekali pura-pura menjaga penampilan di depan santri putra atau para ustadz, berlaga makan hanya sedikit atau berbaik hati membagi makanannya, padahal mendengus “yaaaah, padahal aku masih mau” dalam hati. Aku tau akal busuk kalian, hahahha. Sungguh rindu suasana itu.
            Menjelang sholat isya, usai makan malam kami bergegass mengambil air wudhu. Di sini lah penyimpangan mulai terjadi. Kami berlomba-lomba ke mesjid untuk mendapatkan shaf paling belakang. Bersegera sholat tahiyyatul masjid sampai adzan isya dan dilanjut sholat qobliyah sampai iqomat datang, untuk apalagi selain agar tidak ada yang menggangu shaf belakang dan enggan disuruh maju ke depan. Kalian pasti ingat pasti ada yang terkantuk-kantuk dan memanjangkan sujudnya.
            Spesial untuk sahabatku Ita Nurlia yang sekarang sedang menempuh study di Bandung. Saat kamu ngantuk dan tertidur di lantai masjid, kita membuat lingkaran dan membacakan surah yaasiin. Hahahha. Untuk sahabatku selanjutnya Mega Nurcahyani, Mariana anggraeni yang sering menemani begadang dan hasilnya ngantuk saat sahur datang. Adapun pesan rindu untuk sahabatku Lia Amalia Fadhilah, Nia khoerusshalihat, kita selalu berlomba-lomba tadarus, kadang tak peduli makhraj huruf. Semoga bacaan al-qur’an kita semakin membaik. Masih ada sahabatku Pipit Nurul Fatimah dan Intan Nur’aeni yang setia membagi nasi dan mempersiapkan hidangan sahur saat kami masih terlelap. Lalu untuk Azmi Mardhiyah dan ukhty Nisa Liannara yang mengingatkanku kesabaran saat emosiku mulai meledak-ledak. Terakhir untuk Nisa Siti Zahrah yang sering kulihat duduk takzim di pojok ruangan yang selalu berkutat dengan kerajinan tangannya. Aku rindu kalian.
            Saat ini aku bersama kehidupan baru yang siap berusaha sendiri menghadapi minggu awal bulan suci. Tak ada acara berebut gorengan atau mengantuk gaya berdugem saat tadarus ba’da isya dan ba’da shubuh. Aku rindu saat pintu kamar diketuk kencang pleh pengasuhan santri karena kita susah bangun sahur. Dan yang terakhir aku rindu euforia kebahagiaan menyambut perpulangan ke rumah masing-masing. Berseragam pesantren dan menggendong tas-tas raksasa, macam pindah rumah. Adakah disana kalian merindukan saat-saat seperi ini ? aku yakin kalian tegas menjawab “YA”. Siapa yang takkan rindu pada sepotong episode penuh makna ini.
            Pengalaman ini terlalu panjang untuk diceritakan. Biarkan kalian semua mempunyai masing-masing cerita indah yang berharga untuk kelak diceritakan kepada anak, cucu kita bahwa ada sebuah tempat yang pernah mempersatukan kita, ada tempat yang penuh arti meski sedikitmenyisakkan luka perpisahan. Yaitu pesantren. Salam rindu yang tak pernah usai. Wassalamu’alaikum warahmatullahi w

0 komentar:

Posting Komentar