Jogjakarta 6-juni-2013
Kepada :
alumni perdana pondok pesantren modern ar-rahmat.
Di : hati, jiwa dan ingatan yang tak
pernah terhapus pun walau sejengkal
Asslamu’alaikum
warohmatullahi wabarokaatuh..
Bersamaan surat yang terlayang ini,
semoga Allah melindungi sahabat-sahabat ku ini.
Tidak terasa sudah setahun yang lalu
kita masih bersama-sama merasakan euforia ramadhan. Sekarang kita sudah
masing-masing pada jalan yang baru, tapi Allah masih mempersatukan tali
persaudaraan kita, semoga tetap abadi. Aamiin.
Aku tulis ini sambil
mengenang sepotong episode yang berharga, yang memberikan banyak kenangan,
pelajaran dan tentunya pengalaman.
Kami angkatan pertama
di sebuah lembaga pendidikan islam. Hanya ber sepuluh santriwati, sisanya
santriwan atau orang-orang yang sengaja nyantri
ngalong.
Pukul 05.00 W.I.B semua santri harus
sudah ada di mesjid, membaca al-qur’an dan tentunya mempersiapkan menu buka
puasa. Hanya ada sekitar 20 santri dan sekitar 12 warga sekitar.
Terlihat hidangan yang terlalu
sederhana, hanya ada gorengan lengkap dengan cabainya. Kalau sedang beruntung
terkadang kami mendapat agar-agar, kue
basah atau buah-buahan yang beraneka warna. Terasa lezat sekali. Bukan karena
terlalu mengirit pengeluaran, hanya saja setetlah ini kami harus sholat maghrib
dan makan malam agar tidak terlambat sholat tarawih.
Ingatkah, kita sudah berjajar di depan
jamuan ta’jil ? Nampak mupeng dan
siaga satu, takut-takut kalau incaran makanannya diambil orang. Biasanya kalian
yang tidak merasa cukup dengan hidangan ini sengaja membeli pop ice atau bakso
tusuk yang sering lewat depan gerbang pesantren saat menjelang buka puasa, tapi
ujung-ujungnya dimintai juga oleh kita. Saat mua’adzin yang sering kami sapa
mang zaid itu mengumandangkan do’a berbuka puasa dan adzan tanda kita boleh
menyerbu gorengan di depan mata. Ramai sekali, terkadang tawa pecah saat salah
satu dari kami tidak mendapat bagian karena diantaran kami juga yang mengambil
jatah lebih. Sering sekali pura-pura menjaga penampilan di depan santri putra
atau para ustadz, berlaga makan hanya sedikit atau berbaik hati membagi
makanannya, padahal mendengus “yaaaah, padahal aku masih mau” dalam hati. Aku
tau akal busuk kalian, hahahha. Sungguh rindu suasana itu.
Menjelang
sholat isya, usai makan malam kami bergegass mengambil air wudhu. Di sini lah
penyimpangan mulai terjadi. Kami berlomba-lomba ke mesjid untuk mendapatkan
shaf paling belakang. Bersegera sholat tahiyyatul masjid sampai adzan isya dan
dilanjut sholat qobliyah sampai iqomat datang, untuk apalagi selain agar tidak
ada yang menggangu shaf belakang dan enggan disuruh maju ke depan. Kalian pasti
ingat pasti ada yang terkantuk-kantuk dan memanjangkan sujudnya.
Spesial
untuk sahabatku Ita Nurlia yang sekarang sedang menempuh study di Bandung. Saat
kamu ngantuk dan tertidur di lantai masjid, kita membuat lingkaran dan
membacakan surah yaasiin. Hahahha. Untuk sahabatku selanjutnya Mega Nurcahyani,
Mariana anggraeni yang sering menemani begadang dan hasilnya ngantuk saat sahur
datang. Adapun pesan rindu untuk sahabatku Lia Amalia Fadhilah, Nia
khoerusshalihat, kita selalu berlomba-lomba tadarus, kadang tak peduli makhraj
huruf. Semoga bacaan al-qur’an kita semakin membaik. Masih ada sahabatku Pipit
Nurul Fatimah dan Intan Nur’aeni yang setia membagi nasi dan mempersiapkan
hidangan sahur saat kami masih terlelap. Lalu untuk Azmi Mardhiyah dan ukhty
Nisa Liannara yang mengingatkanku kesabaran saat emosiku mulai meledak-ledak. Terakhir
untuk Nisa Siti Zahrah yang sering kulihat duduk takzim di pojok ruangan yang
selalu berkutat dengan kerajinan tangannya. Aku rindu kalian.
Saat
ini aku bersama kehidupan baru yang siap berusaha sendiri menghadapi minggu
awal bulan suci. Tak ada acara berebut gorengan atau mengantuk gaya berdugem
saat tadarus ba’da isya dan ba’da shubuh. Aku rindu saat pintu kamar diketuk
kencang pleh pengasuhan santri karena kita susah bangun sahur. Dan yang
terakhir aku rindu euforia kebahagiaan menyambut perpulangan ke rumah
masing-masing. Berseragam pesantren dan menggendong tas-tas raksasa, macam
pindah rumah. Adakah disana kalian merindukan saat-saat seperi ini ? aku yakin
kalian tegas menjawab “YA”. Siapa yang takkan rindu pada sepotong episode penuh
makna ini.
Pengalaman
ini terlalu panjang untuk diceritakan. Biarkan kalian semua mempunyai masing-masing
cerita indah yang berharga untuk kelak diceritakan kepada anak, cucu kita bahwa
ada sebuah tempat yang pernah mempersatukan kita, ada tempat yang penuh arti
meski sedikitmenyisakkan luka perpisahan. Yaitu pesantren. Salam rindu yang tak
pernah usai. Wassalamu’alaikum warahmatullahi w

0 komentar:
Posting Komentar