Merah...
Merah itu mawar, berduri
tapi tetap indah menawan. Wanginya, rupanya, siapa pun tidak akan ada yang
menolak bahwa itu indah (kecuali lagi tipe-x “kau mawar hitam, baumu kepedihan” aku rasa lirik itu terlalu sakit untuk
diungkapkan.
Merah juga api, menyala
gagah dengan kobarannya. Seperti hendak menyerang siapa saja yang berani
bermain dengannya (seperti dalam pribahasa, jangan bermain api jika tidak mau
terbakar).
Jingga..
Jingga itu senja, dia
terlihat saat malam mulai datang dan dia indah pada kelam yang menyapa malam.
Kuning..
Kuning itu matahari,
siapapun tak berani menatapnya. Sinarnya kuat. Panasnya pun menyengat, dia
hebat, menyinari bumi (juga mengeringkan baju, hehehe).
Hijau..
Hijau itu sawah,
hamparannya menyejukkan. Pemandangannya menyegarkan. Padanya padi yang semakin
tinggi semakin merunduk. Hanya orang-orang yang berpemahaman tinggi yang mau
memahami.
Biru...
Biru itu laut, Seorang
penyelam ahli sekalipun jika tak membawa perlengkapan menyelam yang canggih
dipastikan tidak bisa menyelami laut. Ajaibnya laut yang tak bertepi pun tak
mudah tumpah, (kecuali saat tsunami, hahahha) ahh..itu hanya pernytaan konyol.
Biru juga langit. Langit
itu luas dan tinggi, burung peregrine falcon yang sedang ramai dibicarakan yang
disebut-sebut sebagai burung tercepat dengan kecepatan 389km/jam saja pasti
tidak akan bisa menembus tingginya langit. Uniknya juga langit tanpa tiang
masih mampu kokoh terlihat gagah mengangkasa (tapi pernah terjadi langit yang
runtuh pada film chiken little) Bukankah itu juga masih pernytaan konyol.
Nila..
Aku kurang paham warna
ini. Yang aku tau nila adalah warna yang ada pada spektrum yang panjang
gelombangya antara 450 dan 420 nanometer, terletak diantara biru dan violet.
Menawan bukan ?
Ungu..
Pernah kah kita lihat
ibu-ibu berkebaya ungu ? begitu anggun bukan ? tetapi tetap terlihat agung.
Ada satu lirik dari lagu pelangi yang begitu memikat hati “pelukismu agung,
siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan” itu benar-benar sempurna.
Keberadaannya yang tegak begitu takzim, memikat.
“Ibu boleh aku tau pelangi itu apa ? ko indah sekali ?
kenapa datangnya tidak setiap hari ? oh iya katanya kalo ada pelangi itu
berarti ada bidadari turun dari kayangan yah Bu ?”
Indah, anak umur 7 tahun,
berkepang satu dan bersenyum manis itu tidak bisa menahan
pertanyaan-pertanyaannya.
“nanti akan Ibu
ceritakan tentang keajaiban pelangi
sayang tapi tolong ambilkan Ibu air minum yah, Ibu terlalu haus untuk
bercerita”
Indah segera berlari-lari
kecil mengambilkan Ibunya air minum, tak sabar menantikan cerita Ibunya tentang
indahnya pelangi.
“ini bu airnya, ayo
ceritakan tentang pelangi itu” mata indah berbinar, seperti sesorang bayi yang
baru lahir, matanya penuh pengharapan.
“anakku sayang, masih
adakah kesabaranmu untuk membereskan kasur Ibu, Ibu terlalu lelah untuk
bercerita, Ibu butuh istirahat. Bolehkah ?”
“tentu bu, aku akan
bersabar sampai ibu bercerita nanti”
Indah kembali bergegas
membereskan kasur ibunya, dengan harapan setelah bangun dari tidur, ibunya akan
menjawab semua pertanyaannya.
“tapi semenjak itu Ibu tidak pernah bangun lagi, Ibu
belum sempat menceritakan tentang pelangi indah itu”
Indah, wanita umur 27
tahun, berhijab anggun dan berwajah sendu itu meceritakan pengalamannya 20
tahun yang lalu.
“tapi aku mengerti, Ibu seperti itu agar menyuruhku
mencari pelangiku sendiri. Mencari definisi indah itu sendiri, mencari tahu
kapan pelangi itu datang dan kenapa ada pelangi. Pelangi itu Ibu, yang tersusun
dari warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila dan ungu. Merah dengan kobaran
semangatnya. Jingga dengan keindahannya dalam gelap. Kuning ibarat mentari yang
bersinar. Hijau dengan kedamaiannya. Biru dengan keagungannya. Nila bersama
keajaibannya dan ungu dengan pengorbanannya. Aku tahu kenapa ibu tidak
menjelaskan pelangi itu, Ibu yang rela menukarkan penglihatannya demi aku. Agar
aku mampu meilihat pelangi itu sendiri. Dan demi tuhan, pelangi itu bukan hanya
sekedar susunan warna tapi hati yang tak kelam, hati yang indah ialah hati Ibu”
indah bercerita sambil terisak. Dia yang selama ini lahir bersama air air mata
dan besar melalui carut marut kehidupan tetapi ia juga yang sekarang berdiri di
depan banyak wartawan yang sibuk bertanya padanya.
“jadi, sosok Ibu adalah
inspirasi terbesar bu Indah selama ini ?” tanya salah satu wartawan, indah
mengangguk penuh keyakinan. “apa pesan bu Indah setelah mendapat gelar the best
writer 2013 ini ?”
“saya berharap untuk
siapapun itu, ingatlah kata-kata ini bahwa seorang Ibu akan rela menukarkan apa
saja demi kebahagiaan anaknya, sekalipun itu kehidupannya sendiri. Cintailah
Ibumu”.

0 komentar:
Posting Komentar