Minggu, 29 September 2013

Mejikuhibinu hati Ibu

Merah...
Merah itu mawar, berduri tapi tetap indah menawan. Wanginya, rupanya, siapa pun tidak akan ada yang menolak bahwa itu indah (kecuali lagi tipe-x “kau mawar hitam, baumu kepedihan”  aku rasa lirik itu terlalu sakit untuk diungkapkan.
Merah juga api, menyala gagah dengan kobarannya. Seperti hendak menyerang siapa saja yang berani bermain dengannya (seperti dalam pribahasa, jangan bermain api jika tidak mau terbakar).
Jingga..
Jingga itu senja, dia terlihat saat malam mulai datang dan dia indah pada kelam yang menyapa malam.
            Kuning..
Kuning itu matahari, siapapun tak berani menatapnya. Sinarnya kuat. Panasnya pun menyengat, dia hebat, menyinari bumi (juga mengeringkan baju, hehehe).
            Hijau..
Hijau itu sawah, hamparannya menyejukkan. Pemandangannya menyegarkan. Padanya padi yang semakin tinggi semakin merunduk. Hanya orang-orang yang berpemahaman tinggi yang mau memahami.
Biru...
Biru itu laut, Seorang penyelam ahli sekalipun jika tak membawa perlengkapan menyelam yang canggih dipastikan tidak bisa menyelami laut. Ajaibnya laut yang tak bertepi pun tak mudah tumpah, (kecuali saat tsunami, hahahha) ahh..itu hanya pernytaan konyol.
Biru juga langit. Langit itu luas dan tinggi, burung peregrine falcon yang sedang ramai dibicarakan yang disebut-sebut sebagai burung tercepat dengan kecepatan 389km/jam saja pasti tidak akan bisa menembus tingginya langit. Uniknya juga langit tanpa tiang masih mampu kokoh terlihat gagah mengangkasa (tapi pernah terjadi langit yang runtuh pada film chiken little) Bukankah itu juga masih pernytaan konyol.
           


Nila..
Aku kurang paham warna ini. Yang aku tau nila adalah warna yang ada pada spektrum yang panjang gelombangya antara 450 dan 420 nanometer, terletak diantara biru dan violet. Menawan bukan ?
Ungu..
Pernah kah kita lihat ibu-ibu berkebaya ungu ? begitu anggun bukan ? tetapi tetap terlihat agung.
            Ada satu lirik dari lagu pelangi  yang begitu memikat hati “pelukismu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan tuhan” itu benar-benar sempurna. Keberadaannya yang tegak begitu takzim, memikat.
            “Ibu boleh aku tau pelangi itu apa ? ko indah sekali ? kenapa datangnya tidak setiap hari ? oh iya katanya kalo ada pelangi itu berarti ada bidadari turun dari kayangan yah Bu ?”
Indah, anak umur 7 tahun, berkepang satu dan bersenyum manis itu tidak bisa menahan pertanyaan-pertanyaannya.
“nanti akan Ibu ceritakan  tentang keajaiban pelangi sayang tapi tolong ambilkan Ibu air minum yah, Ibu terlalu haus untuk bercerita”
Indah segera berlari-lari kecil mengambilkan Ibunya air minum, tak sabar menantikan cerita Ibunya tentang indahnya pelangi.
“ini bu airnya, ayo ceritakan tentang pelangi itu” mata indah berbinar, seperti sesorang bayi yang baru lahir, matanya penuh pengharapan.
“anakku sayang, masih adakah kesabaranmu untuk membereskan kasur Ibu, Ibu terlalu lelah untuk bercerita, Ibu butuh istirahat. Bolehkah ?”
“tentu bu, aku akan bersabar sampai ibu bercerita nanti”
Indah kembali bergegas membereskan kasur ibunya, dengan harapan setelah bangun dari tidur, ibunya akan menjawab semua pertanyaannya.
            “tapi semenjak itu Ibu tidak pernah bangun lagi, Ibu belum sempat menceritakan tentang pelangi indah itu”
Indah, wanita umur 27 tahun, berhijab anggun dan berwajah sendu itu meceritakan pengalamannya 20 tahun yang lalu.
            “tapi aku mengerti, Ibu seperti itu agar menyuruhku mencari pelangiku sendiri. Mencari definisi indah itu sendiri, mencari tahu kapan pelangi itu datang dan kenapa ada pelangi. Pelangi itu Ibu, yang tersusun dari warna merah-jingga-kuning-hijau-biru-nila dan ungu. Merah dengan kobaran semangatnya. Jingga dengan keindahannya dalam gelap. Kuning ibarat mentari yang bersinar. Hijau dengan kedamaiannya. Biru dengan keagungannya. Nila bersama keajaibannya dan ungu dengan pengorbanannya. Aku tahu kenapa ibu tidak menjelaskan pelangi itu, Ibu yang rela menukarkan penglihatannya demi aku. Agar aku mampu meilihat pelangi itu sendiri. Dan demi tuhan, pelangi itu bukan hanya sekedar susunan warna tapi hati yang tak kelam, hati yang indah ialah hati Ibu” indah bercerita sambil terisak. Dia yang selama ini lahir bersama air air mata dan besar melalui carut marut kehidupan tetapi ia juga yang sekarang berdiri di depan banyak wartawan yang sibuk bertanya padanya.
“jadi, sosok Ibu adalah inspirasi terbesar bu Indah selama ini ?” tanya salah satu wartawan, indah mengangguk penuh keyakinan. “apa pesan bu Indah setelah mendapat gelar the best writer 2013 ini ?”
“saya berharap untuk siapapun itu, ingatlah kata-kata ini bahwa seorang Ibu akan rela menukarkan apa saja demi kebahagiaan anaknya, sekalipun itu kehidupannya sendiri. Cintailah Ibumu”.
               













0 komentar:

Posting Komentar