Rabu, 02 Oktober 2013

Ayah

Sekilas tentang cinta ayah
Cintanya yang kadang tak terlihat, seakan acuh tapi menyimpan do’a suci dalam sujud tulusnya.
Ada cinta ayah yang mengendap di samping cinta ibu yang meluap. Kadang ayah hanya tersenyum saat ibu sibuk mencium anaknya, kadang ayah hanya haru tertunduk saat ibu dengan eratnya memeluk. Bukan karena tak sayang, beliau hanya tak tau bagaimana cara menyampaikna rasa cintanya.
Dan ini sepenggal kisah ayah yang pernah hidup susah tapi tak menyusahkan, hidup sengsara tapi berusaha agar anaknya tak pernah sengsara.
Aku memanggilnya bapak, bapak yang aku tahu tak pernah sungkan membantu meski keadaannya sangat terpuruk. Bahkan beliau pernah rela meminjamkan surat tanah rumah kami yang kurang dari sederhana itu. Aduhai, aku tak pernah mengerti sebesar apa rasa kasihan bapak kepada orang lain.
Saat aku kecil, bapak pernah bilang “kalau berani lawan, kalo ga berani mending diam”. Bapak bukan mengajari anak-anaknya kekerasan, bukan..hanya saja bapak ingin anaknya lebih berani, bapak tau kalo hidup ini terlalu keras. Tapi bagi bapak hidup keras bukan berarti hati kita mengeras seperti batu. Bapak bukan sarjana, bukan pejabat hanya aku tahu bapak tak pernah curang dalam berdagang, aku tahu kalau bapak selalu bersikap ramah kepada para pelanggan, aku tahu bapak selalu berusaha keras untuk menghidupi kami keluarganya.
Aku ingat saat bapak menangis di kuburan nenek, aku ingat saat bapak menangis dan bersujud syukur saat berhasil melunasi hutang saudaranya yang menggadaikan rumah kami, aku ingat saat bapak menangis karena kaka sakit yang aneh, aku ingat saat bapak menangis setiap hari raya saat aku dan kaka ku sungkeman. Bapak melafalkan harapan-harapan besar dan do’a-do’a tulus untuk kami. Bapak itu tegar namun berhati lembut.
Bapak yang sedari kecil tidak pernah diurus orang tuanya, tidak disekolahkan dan dipilih kasih tapi bapak juga yang paling rajin mengurus orang tua ny saat sudah renta, menjamin hidupnya, mengurusi pemakamannya serta membiayai semua keperluannya dan satu hal bapak tidak menerima sepeser pun warisan orang tuanya.
Saat kepergianku merantau ke kota pelajar, bapak tidak pernah menampakkan air mata kesedihannya, tapi aku tau bapak merasa kehilangan. Bapak menutupi kesedihannya dengan gurauan-gurauan kecil agar kami tak berlarut dalam kesedihan.
Bapak, terimakasih atas rasa cinta yang besar dan tersembunyi, how much I Love you J

0 komentar:

Posting Komentar